Real Madrid harus menerima hasil mengejutkan pada jornada keempat LaLiga 2026/2027. Bertandang menghadapi Real Betis di Estadio La Cartuja, Sevilla, Jumat 4 September 2026, Los Blancos tumbang dengan skor tipis 0-1.
Kekalahan tersebut menjadi noda pertama bagi Real Madrid pada awal musim LaLiga. Sebelumnya, tim asuhan José Mourinho mampu mengawali kompetisi dengan tiga kemenangan beruntun. Bahkan, Madrid datang ke Sevilla dengan kepercayaan diri tinggi setelah mencetak banyak gol dalam tiga pertandingan awal.

Namun, pertandingan melawan Betis menunjukkan bahwa dominasi penguasaan permainan tidak selalu menjamin kemenangan. Madrid menciptakan sejumlah peluang, tetapi penyelesaian akhir yang buruk dan penampilan luar biasa kiper Betis, Álvaro Valles, membuat tim ibu kota Spanyol gagal mencetak gol.
1. Real Madrid Kurang Efektif di Depan Gawang
Penyebab paling jelas dari kekalahan Madrid adalah buruknya efektivitas penyelesaian akhir.
Los Blancos sebenarnya memiliki beberapa peluang untuk membuka keunggulan. Kylian Mbappé menjadi salah satu pemain yang paling banyak mendapatkan sorotan karena memiliki sejumlah kesempatan mencetak gol, tetapi tidak mampu mengubah peluang tersebut menjadi gol.
Bahkan, Mbappé memiliki kesempatan emas pada masa injury time setelah Madrid mendapatkan hadiah penalti. Sayangnya, eksekusi pemain Prancis tersebut berhasil ditepis Álvaro Valles.
Kegagalan penalti itu menjadi salah satu momen paling menentukan dalam pertandingan. Jika bola masuk, Madrid setidaknya memiliki peluang untuk membawa pulang satu poin.
2. Álvaro Valles Menjadi Tembok Kokoh Betis
Madrid juga harus mengakui bahwa lawan memiliki penjaga gawang yang tampil luar biasa.
Álvaro Valles menjadi salah satu alasan utama Betis mampu mempertahankan keunggulan hingga pertandingan berakhir. Ia beberapa kali menggagalkan peluang berbahaya Madrid, termasuk peluang Jude Bellingham pada awal pertandingan.
Puncak penampilannya terjadi ketika ia berhasil membaca arah tendangan penalti Mbappé pada masa injury time.
Valles bahkan mengungkapkan bahwa dirinya telah mempelajari pola tendangan penalti Mbappé sebelum pertandingan. Persiapan tersebut terbukti sangat penting karena penyelamatannya memastikan Betis meraih kemenangan 1-0.
3. Gol Troy Parrott Mengubah Jalannya Pertandingan
Real Betis akhirnya mendapatkan gol yang mereka butuhkan pada menit ke-81.
Troy Parrott mencetak gol setelah Thibaut Courtois sebelumnya berhasil melakukan penyelamatan terhadap sundulan pemain Betis. Bola muntah kemudian jatuh ke area yang tepat untuk Parrott, yang langsung memanfaatkannya menjadi gol.
Gol tersebut membuat Madrid berada dalam situasi sulit karena waktu pertandingan sudah memasuki fase akhir.
Secara permainan, Madrid sebenarnya masih memiliki kesempatan untuk menyamakan kedudukan. Namun, tekanan yang diberikan Betis dan waktu yang semakin sedikit membuat Los Blancos tidak mampu menemukan gol balasan.
4. Madrid Mendominasi, tetapi Tidak Mampu Mengonversi Peluang
Salah satu hal menarik dari pertandingan ini adalah Madrid bukan berarti bermain buruk sepanjang pertandingan.
Sebaliknya, mereka mampu menciptakan sejumlah peluang dan mengontrol banyak fase permainan. Akan tetapi, sepak bola ditentukan oleh gol.

Betis bermain lebih efisien. Mereka tidak membutuhkan banyak peluang untuk mendapatkan gol kemenangan. Sementara Madrid membutuhkan terlalu banyak kesempatan untuk menghasilkan satu gol.
Situasi tersebut memperlihatkan perbedaan antara dominasi permainan dan efektivitas.
Real Madrid bisa menguasai pertandingan, tetapi apabila peluang tidak diselesaikan dengan baik, lawan tetap memiliki kesempatan mencuri kemenangan.
5. Vinícius Junior dan Mbappé Tidak Maksimal
Dua pemain yang biasanya menjadi sumber ancaman terbesar Madrid, Vinícius Junior dan Mbappé, juga tidak mampu memberikan kontribusi maksimal dalam hal mencetak gol.
Vinícius memang berhasil menciptakan situasi berbahaya dan menjadi pemain yang mendapatkan penalti untuk Madrid pada penghujung pertandingan. Namun, secara keseluruhan, serangan Madrid masih dapat diredam pertahanan Betis.
Mbappé bahkan mengalami malam yang sangat sulit. Selain gagal memanfaatkan beberapa peluang, ia juga gagal mengeksekusi penalti.
Namun, menyalahkan kekalahan sepenuhnya kepada Mbappé tentu tidak tepat. Madrid sebagai tim gagal memanfaatkan banyak kesempatan yang tersedia sepanjang pertandingan.
6. Betis Bermain Lebih Efektif dan Disiplin
Real Betis patut mendapatkan kredit besar atas kemenangan tersebut.
Tim asuhan Manuel Pellegrini mampu menjaga organisasi pertahanan dan membuat Madrid kesulitan mendapatkan ruang di area berbahaya.
Ketika Madrid meningkatkan tekanan pada babak kedua, Betis tetap berusaha bertahan dengan disiplin sambil mencari peluang untuk melakukan serangan balik.
Strategi tersebut akhirnya membuahkan hasil melalui gol Parrott pada menit ke-81.
Betis kemudian mampu mempertahankan keunggulan meskipun Madrid memberikan tekanan besar di menit-menit terakhir.
7. Faktor Mental Setelah Gagal Mencetak Gol
Kegagalan mencetak gol juga dapat memengaruhi mental sebuah tim.
Madrid memasuki pertandingan dengan status favorit dan rekor sempurna di awal musim. Namun, ketika gol tidak kunjung datang, tekanan perlahan meningkat.
Situasi menjadi semakin sulit setelah Betis mencetak gol.
Madrid kemudian harus bermain lebih agresif untuk mengejar ketertinggalan. Kondisi tersebut membuat pertandingan menjadi lebih terbuka, tetapi efektivitas serangan tetap menjadi masalah.
Bahkan ketika mendapatkan penalti pada injury time, Madrid masih gagal menyamakan kedudukan.
8. Mourinho Mendapat Pekerjaan Rumah
Kekalahan ini juga menjadi evaluasi penting bagi José Mourinho.
Ini merupakan kekalahan pertamanya sejak kembali menangani Real Madrid pada musim 2026/2027. Mourinho sendiri mengaku sulit menjelaskan mengapa Madrid bisa kalah setelah menciptakan begitu banyak peluang.
Ia menilai timnya memiliki performa yang cukup baik dalam sejumlah aspek, tetapi Betis mampu bermain lebih cerdik dan memanfaatkan situasi pertandingan dengan baik.

Mourinho kini harus memastikan kekalahan tersebut tidak berkembang menjadi masalah lebih besar.
Madrid masih berada di papan atas klasemen dengan sembilan poin dari empat pertandingan. Namun, Barcelona masih berpeluang mengambil keuntungan apabila mampu memenangkan pertandingan mereka.
9. Kekalahan yang Bisa Menjadi Pelajaran
Meskipun menyakitkan, kekalahan dari Betis belum bisa disebut sebagai krisis bagi Real Madrid.
Musim masih sangat panjang. Madrid sebelumnya menunjukkan produktivitas tinggi dengan mencetak 10 gol dalam tiga pertandingan awal dan hanya kebobolan dua gol dalam periode tersebut.
Yang harus diperbaiki adalah efektivitas di depan gawang.
Madrid memiliki kualitas pemain untuk menciptakan peluang. Masalahnya adalah bagaimana peluang tersebut dikonversi menjadi gol.
Pertandingan melawan Betis menjadi contoh bahwa satu pertandingan buruk dalam penyelesaian akhir dapat membuat tim dominan kehilangan seluruh poin.
Kesimpulan
Real Madrid kalah 0-1 dari Real Betis bukan semata-mata karena mereka bermain buruk. Kekalahan tersebut lebih disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, yaitu buruknya penyelesaian akhir, penampilan gemilang Álvaro Valles, gol Troy Parrott pada menit ke-81, serta kegagalan Kylian Mbappé memanfaatkan penalti di injury time.
Betis tampil lebih efektif dan mampu mempertahankan keunggulan ketika Madrid meningkatkan tekanan.
Bagi Real Madrid, hasil ini harus segera dijadikan bahan evaluasi. Los Blancos masih memiliki perjalanan panjang di LaLiga 2026/2027 dan kompetisi Eropa. Setelah kekalahan tersebut, perhatian Madrid langsung beralih ke Liga Champions, di mana mereka dijadwalkan menghadapi Inter Milan.
Jika masalah efektivitas dapat diperbaiki, kekalahan di Sevilla kemungkinan hanya akan menjadi satu kesalahan kecil dalam perjalanan panjang musim ini. Namun jika peluang terus terbuang, Madrid berpotensi kehilangan lebih banyak poin pada pertandingan-pertandingan berikutnya.