Liverpool harus menelan kekalahan tipis saat menjamu Arsenal dalam lanjutan Liga Inggris 2026-2027. Bermain di Stadion Anfield pada Minggu, 1 November 2026, The Reds menyerah dengan skor 0-1 setelah Kai Havertz mencetak gol tunggal kemenangan The Gunners.

Hasil pertandingan ini menjadi semakin panas karena Liverpool merasa dirugikan oleh sejumlah keputusan wasit. Pelatih Liverpool, Andoni Iraola, secara terbuka mengkritik keputusan wasit Andy Madley yang tidak memberikan hadiah penalti setelah Alexander Isak ditarik jersey-nya oleh bek Arsenal, Jurrien Timber.
Iraola menilai insiden tersebut seharusnya berujung penalti. Ia bahkan menyindir bahwa pemain harus menjatuhkan diri agar pelanggaran di kotak terlarang mendapatkan perhatian wasit.
Kekalahan ini terasa menyakitkan bagi Liverpool karena mereka bermain di hadapan pendukung sendiri. Sebaliknya, Arsenal pulang dengan tiga poin penting sekaligus mengakhiri penantian panjang untuk meraih kemenangan liga di Anfield. Reuters+2
Kai Havertz Bawa Arsenal Unggul pada Babak Pertama
Pertandingan berlangsung dengan tempo tinggi sejak menit awal. Liverpool berusaha memanfaatkan dukungan suporter Anfield untuk menekan pertahanan Arsenal. Namun, tim tamu tampil disiplin dan mampu memanfaatkan kesalahan tuan rumah.
Gol yang menentukan pertandingan tercipta pada menit ke-16. Arsenal berhasil merebut bola ketika Liverpool mencoba membangun serangan dari area pertahanan sendiri.
Declan Rice kemudian bergerak di sisi kanan dan mengirimkan umpan mendatar ke dalam kotak penalti. Kai Havertz berada di posisi yang tepat untuk menyambut bola dari jarak dekat dan mengarahkannya ke gawang Liverpool.
Penjaga gawang Alisson Becker tidak mampu menghentikan penyelesaian tersebut. Arsenal pun unggul 1-0 dan membuat publik Anfield terdiam.
Gol cepat itu memberikan keuntungan besar bagi pasukan Mikel Arteta. Arsenal semakin percaya diri dalam mengatur permainan, sedangkan Liverpool harus berusaha mengejar ketertinggalan.
The Reds mencoba meningkatkan tekanan melalui Alexander Isak, Cody Gakpo, dan Florian Wirtz. Akan tetapi, lini belakang Arsenal tampil cukup rapat sehingga peluang Liverpool tidak mudah berkembang menjadi kesempatan bersih.
Liverpool sempat mendapatkan peluang melalui tendangan bebas Florian Wirtz. Bola hasil eksekusinya meluncur ke arah gawang, tetapi hanya membentur mistar. Kesempatan tersebut menjadi salah satu momen terbaik Liverpool untuk menyamakan kedudukan pada babak pertama.
Arsenal tetap mampu mempertahankan keunggulan hingga turun minum. Liverpool FC+2
Alexander Isak Ditarik Jurrien Timber, Liverpool Minta Penalti
Kontroversi terbesar pertandingan terjadi ketika Liverpool sedang berusaha membangun serangan. Alexander Isak bergerak ke area kotak penalti untuk menyambut umpan silang Bradley Barcola.
Namun, sebelum berhasil menjangkau bola, jersey Isak terlihat ditarik oleh Jurrien Timber. Tarikan tersebut membuat penyerang Liverpool kesulitan mencapai bola yang melintas di depannya.
Liverpool berharap wasit Andy Madley menunjuk titik putih. Akan tetapi, wasit tidak memberikan penalti dan pertandingan tetap dilanjutkan.
Keputusan tersebut juga tidak berubah setelah ditinjau oleh Video Assistant Referee atau VAR. Stuart Attwell yang bertugas sebagai wasit VAR menilai tidak ada alasan cukup untuk mengubah keputusan di lapangan.
Situasi itu langsung menjadi bahan perdebatan setelah pertandingan. Sejumlah pengamat menilai tarikan jersey Timber cukup jelas, sementara pihak lain mempertanyakan apakah Isak benar-benar kehilangan kesempatan untuk memainkan bola.

Kapten Liverpool, Virgil van Dijk, juga mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut telah melihat tayangan ulang dan merasa insiden tersebut merupakan pelanggaran yang dalam sejumlah pertandingan lain bisa berujung penalti.
Bagi Liverpool, keputusan itu sangat merugikan karena mereka sedang tertinggal satu gol dan membutuhkan kesempatan untuk menyamakan kedudukan. Sky Sports+2
Andoni Iraola Kritik Keputusan Wasit
Usai pertandingan, Andoni Iraola tidak menyembunyikan kekecewaannya. Pelatih Liverpool tersebut menilai insiden yang melibatkan Isak dan Timber merupakan pelanggaran yang seharusnya mendapatkan hukuman penalti.
Menurut Iraola, Isak sebenarnya berada dalam posisi yang sangat bagus untuk menyambut bola di depan gawang. Namun, tarikan jersey dari Timber membuat pemain asal Swedia tersebut gagal menjangkau umpan.
Iraola juga menyoroti alasan mengapa penalti tidak diberikan. Ia menduga keputusan wasit dipengaruhi oleh fakta bahwa Isak tidak menjatuhkan diri meskipun jersey-nya ditarik.
Dalam komentarnya, Iraola menyampaikan sindiran keras mengenai situasi tersebut. Ia mengatakan bahwa pemain mungkin harus menjatuhkan diri agar wasit memberikan penalti.
Bahkan, ketika ditanya apakah dirinya akan meminta Isak melakukan hal serupa pada pertandingan berikutnya, Iraola menjawab bahwa ia akan melakukannya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan karena menyentuh persoalan yang sering diperdebatkan dalam sepak bola modern: apakah pemain harus menunjukkan reaksi dramatis agar pelanggaran mendapatkan perhatian wasit?
Iraola menegaskan bahwa pemain yang tetap berusaha berdiri dan mengejar bola seharusnya tidak kehilangan hak untuk mendapatkan keputusan yang adil. Baginya, tindakan menarik jersey di dalam kotak penalti tetap harus dinilai berdasarkan pelanggarannya, bukan berdasarkan seberapa dramatis reaksi pemain.
Pernyataan Iraola kemudian mendapat perhatian luas dari media olahraga Inggris. Liverpool FC+2
Bukan Hanya Isak, Gakpo Juga Mengklaim Penalti
Kontroversi Liverpool tidak berhenti pada insiden Alexander Isak. Ada satu kejadian lain yang juga dipermasalahkan Iraola, yaitu ketika Cody Gakpo terlibat duel dengan Christos Tzolis di area penalti Arsenal.
Dalam situasi tersebut, Tzolis terlihat memegang bagian pinggang Gakpo ketika pemain Liverpool itu berusaha bergerak mengejar bola. Gakpo kemudian terjatuh dan berharap wasit memberikan hadiah penalti.
Namun, wasit dan VAR kembali tidak menganggap insiden tersebut sebagai pelanggaran yang layak dihukum dengan tendangan penalti.
Menariknya, Iraola memiliki pandangan yang sedikit berbeda terhadap dua kejadian tersebut. Ia mengakui bahwa keputusan untuk tidak memberikan penalti kepada Gakpo masih bisa dipahami karena bola dinilai terlalu jauh untuk dijangkau sang pemain.
Akan tetapi, ia mempertanyakan konsistensi keputusan tersebut jika dibandingkan dengan insiden Isak. Menurutnya, alasan yang digunakan untuk menolak klaim Gakpo seharusnya tidak diterapkan secara berbeda pada situasi Isak.
Dua insiden tersebut membuat kekalahan Liverpool semakin terasa mengecewakan. The Reds merasa memiliki alasan kuat untuk mendapatkan setidaknya satu kesempatan dari titik penalti.
Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan wasit dan tim VAR. Hingga pertandingan selesai, tidak ada penalti yang diberikan kepada Liverpool. Sky Sports+2
Arsenal Bertahan Solid hingga Peluit Panjang
Setelah mencetak gol, Arsenal menunjukkan kedisiplinan dalam menjaga keunggulan. Mikel Arteta meminta para pemainnya tetap fokus dan tidak memberikan ruang terlalu besar bagi Liverpool.
The Gunners mampu mengurangi kesempatan tuan rumah untuk menciptakan peluang bersih. Liverpool memang terus berusaha menekan, tetapi penyelesaian akhir mereka belum cukup untuk mengubah kedudukan.
Florian Wirtz menjadi salah satu pemain yang berusaha menghidupkan serangan Liverpool. Tendangan bebasnya yang membentur mistar menjadi bukti bahwa The Reds sebenarnya memiliki kesempatan untuk menyamakan skor.
Pada babak kedua, Liverpool kembali mencoba meningkatkan tekanan. Alexander Isak mendapatkan peluang dari sudut sempit setelah menerima bola dari Milos Kerkez, tetapi tembakannya belum mengarah tepat ke sasaran.
Arsenal juga sempat memperoleh beberapa kesempatan untuk menggandakan keunggulan. Bruno Guimaraes melepaskan tembakan yang melenceng tipis, sedangkan Declan Rice memaksa Alisson melakukan penyelamatan.
Di sisi lain, David Raya dan barisan pertahanan Arsenal tampil disiplin. Mereka berhasil menggagalkan sejumlah upaya Liverpool hingga pertandingan berakhir.

Kemenangan 1-0 tersebut menjadi hasil penting bagi Arsenal. Mereka berhasil mengamankan tiga poin meskipun harus menghadapi tekanan besar dari tuan rumah. Liverpool FC+2
Arsenal Akhiri Penantian 14 Tahun di Anfield
Kemenangan atas Liverpool memiliki arti khusus bagi Arsenal. Hasil ini menjadi kemenangan liga pertama The Gunners di Anfield dalam 14 tahun terakhir.
Arteta mengaku bangga dengan daya juang para pemainnya. Kemenangan tersebut juga menjadi respons positif setelah Arsenal sebelumnya tersingkir dari Piala Liga Inggris melalui adu penalti melawan Fleetwood Town.
Hasil di Anfield memperlihatkan kemampuan Arsenal untuk bangkit setelah mengalami kekecewaan. Mereka mampu tampil lebih disiplin dan memanfaatkan peluang penting melalui Kai Havertz.
Tambahan tiga poin membuat Arsenal semakin kokoh di puncak klasemen sementara. Mereka unggul tiga poin dari Manchester City dan memiliki jarak sembilan poin dari Liverpool setelah pertandingan tersebut.
Bagi Liverpool, kekalahan ini menjadi pekerjaan rumah bagi Iraola. Timnya harus segera memperbaiki efektivitas serangan sekaligus menjaga konsistensi permainan jika ingin kembali bersaing di papan atas.
Liverpool Harus Segera Bangkit
Kekalahan dari Arsenal tidak boleh membuat Liverpool terlalu lama larut dalam kekecewaan. Musim masih panjang dan peluang untuk memperbaiki posisi klasemen tetap terbuka.
Iraola perlu mengevaluasi beberapa aspek, terutama konsentrasi pada awal pertandingan. Gol Havertz pada menit ke-16 menunjukkan bahwa Liverpool masih harus memperbaiki koordinasi ketika kehilangan penguasaan bola.
Selain itu, penyelesaian akhir juga menjadi perhatian. Liverpool memiliki sejumlah peluang, tetapi belum mampu mengubahnya menjadi gol. Tendangan Wirtz yang membentur mistar menjadi salah satu kesempatan yang paling disayangkan.
The Reds dijadwalkan menghadapi Crystal Palace pada pertandingan liga berikutnya, 8 November 2026. Laga tersebut menjadi kesempatan bagi Liverpool untuk kembali meraih poin dan memperbaiki kepercayaan diri.
Sementara itu, Arsenal akan menjamu Hull City pada 7 November 2026. The Gunners tentu ingin mempertahankan momentum positif setelah meraih kemenangan besar secara psikologis di kandang Liverpool. Reuters+1
Kesimpulan
Liverpool kalah 0-1 dari Arsenal dalam lanjutan Liga Inggris 2026-2027. Gol tunggal Kai Havertz pada menit ke-16 memastikan kemenangan The Gunners di Anfield.
Namun, pertandingan ini juga diwarnai kontroversi setelah dua klaim penalti Liverpool tidak dikabulkan. Andoni Iraola secara khusus menilai tarikan jersey Jurrien Timber terhadap Alexander Isak seharusnya menghasilkan penalti. Ia bahkan menyindir bahwa pemain harus menjatuhkan diri agar pelanggaran lebih diperhatikan wasit.
Kemenangan ini menjadi momen bersejarah bagi Arsenal karena mereka akhirnya kembali menang di Anfield dalam pertandingan liga setelah 14 tahun. Sebaliknya, Liverpool harus segera bangkit dan memperbaiki performa pada laga berikutnya.