Perdana Menteri Keir Starmer berdiri di depan media saat kunjungan diplomatik ke China pertama dalam delapan tahun

Jakarta – Beijing — Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, memulai kunjungan resmi yang bersejarah ke China pada akhir Januari 2026 — menjadi kunjungan pertama oleh seorang pemimpin Inggris dalam delapan tahun terakhir untuk bertemu langsung dengan Presiden China, Xi Jinping. Kunjungan ini terjadi di tengah upaya London untuk “mengreset” hubungan bilateral yang sempat dingin dan menghadapi berbagai tekanan geopolitik global.

Starmer tiba di Beijing membawa rombongan besar, termasuk lebih dari 50 pemimpin bisnis asal Inggris dari sektor keuangan, otomotif, farmasi, energi bersih dan jasa, menunjukkan fokus besar Inggris pada kerja sama ekonomi sekaligus diplomatik.

BACA JUGA:

Maarten Paes ke Ajax Amsterdam: Peran 2 Sosok Berpengaruh dari Timnas Indonesia yang Memuluskan Jalan Transfernya


Latar Belakang: Mengapa Kunjungan Ini Penting

Kunjungan Starmer ke China menandai perubahan strategi diplomatik Inggris setelah bertahun-tahun hubungan yang fluktuatif dan tegang. Sejak terakhir Tories mengunjungi Beijing pada 2018, hubungan kedua negara sempat menurun akibat perbedaan tajam mengenai isu politik, keamanan dan hak asasi manusia.

Starmer sendiri menggambarkan bahwa hubungan Inggris-China yang konsisten dan stabil adalah bagian dari kepentingan nasional Inggris, terutama ketika China merupakan partner dagang terbesar Inggris di Asia dan berada di peringkat ketiga sebagai mitra dagang utama secara global.


Agenda dan Fokus Pembicaraan

🗣️ 1. Pertemuan dengan Xi Jinping

Starmer dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping dalam pertemuan tingkat tinggi, di samping pertemuan dengan Perdana Menteri China Li Qiang dan pejabat tinggi legislatif negara itu. Pembicaraan diharapkan mencakup:

China menyatakan siap membahas kerja sama ekonomi lebih dalam dan memanfaatkan kunjungan ini untuk memperkuat komunikasi senior yang telah lama terhenti di tingkat tertinggi.


Ekonomi: Peluang Baru di Tengah Tantangan

Salah satu fokus utama rombongan Starmer adalah meningkatkan peluang ekonomi. Data resmi menunjukkan bahwa:

📈 Perdagangan barang bilateral antara Inggris dan China mencapai lebih dari US$ 103,7 miliar pada 2025, dengan total investasi dua arah hampir US$ 68 miliar.

China merupakan pasar layanan penting bagi Inggris, sementara bisnis Inggris melihat potensi besar pada sektor teknologi, layanan keuangan, dan energi bersih di China. Keberangkatan 50 pebisnis menunjukkan kepercayaan dari komunitas bisnis Inggris atas potensi nyata kerja sama yang lebih dalam.

Starmer menyampaikan pada wartawan bahwa mengabaikan China bukanlah strategi yang masuk akal, menambahkan bahwa “ada peluang nyata untuk membuat kemajuan” dalam hubungan ekonomi.


Tantangan: Keamanan dan Hak Asasi Manusia

Meski menekankan dialog pragmatis, Starmer tetap menghadapi kritik dari berbagai pihak di Inggris:

Starmer sendiri menyatakan akan mengangkat isu-isu penting secara langsung di Beijing, menunjukkan tidak ada niatan untuk “menghindar” dari perbedaan, meski prioritas utamanya adalah dialog pragmatis yang seimbang.


Hubungan Inggris-AS dan China: Tidak Wajib Memilih

Dalam jelajahannya, Starmer juga menekankan bahwa Inggris tidak harus memilih antara AS dan China, meski kedua negara merupakan kekuatan besar dunia dengan kebijakan yang kadang bertentangan. Ia mengatakan Inggris bertujuan untuk mempertahankan aliansi kuat dengan AS sambil membangun hubungan pragmatis dengan China.

Pendekatan semacam ini mencerminkan strategi diplomatik yang mencoba menyelaraskan kebutuhan ekonomi global dengan kebutuhan keamanan serta kepentingan domestik Inggris.

Pejabat Inggris dan China berjabat tangan di Beijing saat memulai pertemuan tingkat tinggi antara Starmer dan Xi Jinping.

Reaksi dan Opini Global

Kunjungan Starmer menimbulkan ragam reaksi:

🔹 Positif:
Pengamat menyebut kunjungan ini sebagai langkah realistis di tengah gejolak global, terutama ketika ekonomi dunia semakin terintegrasi dan tidak ada besar kekuatan tunggal yang bisa memenuhi semua kepentingan Inggris sendiri.

🔹 Kritik:
Sebagian analis dan politisi mengkhawatirkan penekanan terlalu besar pada hubungan ekonomi bisa mengabaikan kekhawatiran terhadap hak asasi manusia dan keamanan jangka panjang.


Kesimpulan

Kunjungan PM Keir Starmer ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping bukan sekadar agenda diplomatik biasa — ini merupakan langkah besar dalam merapikan kembali hubungan Inggris-China setelah bertahun-tahun ketidakpastian dan ketegangan.

Starmer datang dengan tujuan ganda: meningkatkan peluang ekonomi dan menjalin dialog yang stabil, sambil tetap menghadapi tekanan domestik dan internasional terkait isu hak asasi manusia dan keamanan. Keputusannya mencerminkan realitas geopolitik saat ini, di mana negara-negara besar mencoba menyeimbangkan antara prinsip dan pragmatisme dalam hubungan luar negeri mereka.

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *